Share dulu ya sob
Facebook
Google+
Twitter
ilustrasi (Okezone) JAKARTA - Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 menuai banyak masalah, mulai dari kecurangan kertas suara hingga politik uang. Bahkan, Pengamat politik Burhanudin Muhtadi menyebut Pemilu 2014 paling brutal dan menjijikkan.
Die mengaku, sudah mendatangi berbagai daerah pemilihan (dapil) dan mewawancarai puluhan calon anggota legislatif (caleg), umumnya mereka melakukan politik uang.
"Wawancara caleg baru ataupun petahana, ada 60 caleg. Semua mengakui adanya money politics," ungkap Burhanudin saat ditemui wartawan di Gedung MPR, Jakarta, Senin (5/5/2014).
Burhanudin pun menanyakan, mengapa hal tersebut tidak bisa dideteksi oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Menurutnya, secara empiris, sistem proporsional terbuka yang diterapkan Indonesia justru membuka peluang politik uang.
"Tapi, poin saya, secara empirik sistem proporsional terbuka memberi insentif poin kecurangan lebih banyak dibanding yang tertutup," tegasnya.
Burhanudin menambahkan, dalam sistem kelembagaan politik di mana satu dapil memiliki banyak kursi, membuat peluang politik uang semakin besar. Sebab, ada partai yang mengharapkan kursi sisa di dapil tersebut dengan cara memberi sejumlah uang ke dapil yang memiliki banyak kursi.
"Ada sinyalemen, ada tiga partai melakukan money politics termasuk di dapil gemuk. Di dapil Jawa itu gemuk-gemuk. Dalam sistem politik di mana konstituen yang diperebutkan lebih kecil, maka money politics lebih besar. Kalau elektoritnya kecil, jual beli suara lebih besar," paparnya.
Dia mengaku, banyak sekali pemilih yang mau mengakui dirinya menerima uang dari para caleg.
"Hampir sepertiga pemilih yang mengaku, apalagi yang tidak ngaku. Dulu delapan persen yang menngaku, sekarang 28 persen. Mereka terbanyak menerima duit dari caleg DPRD, kedua di pemilihan DPR RI, kemudian DPRD provinsi," tuntasnya. (put)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.