Share dulu ya sob
Facebook
Google+
Twitter
SEMARANG - Pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono menilai, pendulum peta koalisi partai politik menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden ada di Partai Demokrat.
"Sejauh ini, peta koalisi kan masih pada berporos dua kekuatan yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo sebagai bakal calon presiden. Parpol-parpol bergerak ke dua poros itu," katanya di Semarang, Senin (12/5/2014).
Menurut pengajar FISIP Undip itu, Prabowo dengan mesin parpol Gerindra dan Jokowi dengan PDI Perjuangan memang menjadi kekuatan besar untuk menarik parpol-parpol lain untuk berkoalisi menghadapi Pilpres 2014.
Poros pertama, kata dia, PDI Perjuangan yang sudah pasti berkoalisi dengan NasDem dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusung Jokowi.
Poros kedua, lanjut dia, Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto yang akan didukung Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Namun, menurut dia, pemetaan "di atas kertas" kekuatan parpol berdasarkan perolehan suara di Pemilu Legislatif memungkinkan terjadinya tiga poros kekuatan koalisi parpol untuk bertarung saat Pilpres.
"Masih ada Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan beberapa parpol lain yang belum menentukan sikap. Demikian pula dengan Partai Demokrat yang sampai sekarang tampaknya masih tenang-tenang saja," terangnya.
Teguh menjelaskan, Demokrat sebenarnya memegang pendulum politik yang memengaruhi peta koalisi parpol dan akan menentukan terciptanya dua atau tiga poros kekuatan dalam menghadapi pilpres mendatang.
"Perhitungan di atas kertas, bisa tercipta tiga poros koalisi pada Pilpres 2014. Realitasnya bisa saja hanya ada dua poros, tergantung sikap Demokrat apakah mau mendukung salah satu poros," katanya.
Jika Demokrat ingin menciptakan satu poros koalisi lagi, dia mengatakan, masih terbuka peluang dengan Golkar dan satu parpol lagi untuk bisa mengusung bakal capres dan cawapres dalam Pilpres 2014.
Akan tetapi, jika Demokrat ternyata memutuskan mendukung salah satu dari dua poros yang sudah menguat, besar kemungkinan hanya ada dua poros yang maju yakni poros Jokowi dan Prabowo.
"Kalau mau mesin parpol kuat, Gerindra bisa gandeng cawapres dari Golkar, misalnya Aburizal Bakrie (Ical). Jika Golkar masuk ke poros Prabowo, bisa saja cawapres PAN yang terpental," terang Teguh. (ant//trk)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.